Jumat, 06 September 2013

Dewi Lestari - Malaikat Juga Tahu

Lelahmu...jadi lelahku juga 
Bahagiamu...bahagiaku pasti 
Berbagi takdir kita selalu 
Kecuali tiap kau jatuh hati

Kali ini hampir habis dayaku 
Membuktikan padamu ada cinta yang nyata 
Setia hadir setiap hari 
Tak tega biarkan kau sendiri 
Meski seringkali kau malah asyik sendiri

Karena kau tak lihat 
Terkadang malaikat tak bersayap 
Tak cemerlang, tak rupawan 
Namun kasih ini, silakan kau adu 
Malaikat juga tahu 
Siapa yang jadi juaranya

Hampamu tak kan hilang semalam 
Oleh pacar impian, tetapi kesempatan 
Untukku yang mungkin tak sempurna 
Tapi siap untuk diuji 
Ku percaya diri, cintakulah yang sejati

Namun tak kau lihat 
Terkadang malaikat tak bersayap, 
Tak cemerlang, tak rupawan 
Namun kasih ini, silakan kau adu 
Malaikat juga tahu 
Siapa yang jadi juaranya

Kau selalu meminta terus kutemani 
Dan kau s'lalu bercanda andai wajahku diganti 
Melarangku pergi karena tak sanggup sendiri

Namun tak kau lihat 
Terkadang malaikat tak bersayap, 
Tak cemerlang, tak rupawan 
Namun kasih ini, silakan kau adu 
Malaikat juag tahu 
Aku kan jadi juaranya



Fatin Shidqia Lubis - Aku Memilih Setia

T'lah banyak cara Tuhan menghadirkan cinta 
Mungkin engkau adalah salah-satunya 
Namun engkau datang di saat yang tidak tepat 
Cintaku telah dimiliki…

Inilah akhirnya harus kuakhiri 
Sebelum cintamu semakin dalam 
Maafkan diriku memilih setia 
Walaupun ku tahu cintamu lebih besar darinya

Maafkanlah diriku tak bisa bersamamu 
Walau besar dan tulusnya rasa cintamu 
Tak mungkin untuk membagi cinta tulusmu 
Dan aku memilih setia…

Inilah akhirnya, harus aku kuakhiri 
Sebelum cintamu semakin dalam 
Maafkan diriku memilih setia 
Walaupun ku tahu cintamu lebih besar darinya

Seribu kali logika ku untuk menolak 
Tapi ku tak bisa bohongi hati kecilku 
Bila saja diriku ini masih sendiri 
Pasti ku memilih dan memilih mu
Inilah akhirnya, harus aku kuakhiriSebelum cintamu semakin dalamMaafkan diriku memilih setiaWalaupun ku tahu cintamuWalaupun ku tahu cintamu lebih besar darinya

Citra Sholastika

*Ketika ku lihat kau bersama dia 
Tak ada penyesalan dalam hidupku 
Dan apa yang ku rasakan saat ini 
Seperti dahulu ku tak mengenalmu
 
Ketika ku lihat kau bersama dia
Tak ada lagi hasrat dalam hidupku
Kepada dirimu yang dulu tercinta 
Tak ada lagi kenangan, takkan lagi harapan
 
Reff:
Everybody knew you're a liar
Everybody knew you're a player
Everybody knew you're never serious 
Risk your love at me 
And i tell you once again baby

Kembali *Kembali ke Reff [3x]
 
Serious risk your love at meAnd i tell you once again oh baby

Rocket Rockers - Dia

Tak pernah ada jalan keluar 
di saat kita berbeda pendapat
 jalan itu ku temui
 
Dan kini diapun pergi menghilang
di saat aku akan mencoba 
untuk lebih saling mengerti
 
Tak akan ada yang lainnya
tak akan mungkin tergantikan
tak akan ada yang sepertinya
 
Dia tlah berubah tak seperti dulu menemaniku
dan tak ada lagi senyumnya
 
Tak pernah ada jalan keluar 
di saat kita akan mencoba
untuk lebih saling mengerti
 
Tak akan ada yang lainnya
tak akan mungkin tergantikan
tak akan ada yang sepertinya
 
Dia tlah berubah tak seperti dulu menemaniku 
dan tak ada lagi senyumnya ooh
dia tlah berubah tak seperti dulu menemaniku 
dan tak ada lagi candanya
 
Tak akan ada yang lainnya
tak akan mungkin tergantikan
tak akan ada yang sepertinya
 
Dan dia tlah berubah tak seperti dulu menemaniku
dan tak ada lagi senyumnya ooh
dia tlah berubah tak seperti dulu menemaniku 
dan tak ada lagi candanya

Konseling Realitas


A.    Sejarah Perkembangan konseling realitas
Konseling realita dicetuskan oleh William Glasser yang lahir pada tahun 1925 dan menghabiskan masa kanak-kanan dan remajanya di Cliveland, Obio. Pertumbuhannya relatif tanpa hambatan, sehingga ia memahami dirinya sebagai lelaki yang baik. Glesser meninggalkan kota kelahirannya setelah ia masuk perguruan tinggi. Ia memperoleh gelar sarjana muda dalam bidang rekayasa kimia, sarjana psikologi klinis dan dokter dari case Western Reserve University. Ia menikah setelah tamat sarjana muda dan setelah sekolah dokter. Ia dan keluarganya pindah ke West Coast karena memperoleh perumahan di UCLA dan membuat rumah pribadi di California Selatan.
Glesser kemudian pindah ke perumahan Rumah Sakit Administrasi Veteran (V.A. Hospital) di Los Angles Barat. Di rumah sakit ini ditemukan contoh klasik kerja psikiater konvensional. Ia ditugasi di sal 206 untuk merawat pasien psikotik kronis. Glesser menamakan program terapi sebagai tiga penyembuhan mental tradisional yang didalamnya pasien diterima sebagai orang yang sakit mental dan diberi penyembuhan yang telah baku. Dengan hanya sembuh 2 pasien setahun menunjukkan ketidakefektifan penyembuhan yang telah baku. Tidak puas dengan kenyataan tersbut, Glasser mulai memperhatikan kemungkinan penyembuhan alternatif dan mencoba prosedur baru. Ia mendapat dorongan dari supervisornya di rumah sakit, tetapi sejawatnya di UCLA tidak puas dan tidak mendukung material yang dibutuhkan.
Pada tahun 1957 Glesser menduduki jabatan sebagai kepala psikiatri di California. Glesser menangani kenakalan remaja putri di Ventura. Ia mulai menerapkan konsep-konsep yang telah dimulai di V.A. Hospital. Ia menerapkan program yang menempatkan tanggung jawab situasi sesaat bagi remaja putri dan tanggung jawab masa depannya.[1]
Aturan-aturan di lembaga ini diperbaharui dengan mengutamakna kebebasan dan memperlunak konsekuensi dari pelanggaran. Hukuman dibatasai dari program. Bila remaja putri itu melanggar peraturan, maka dia tidak dihukum dan juga tidak diampuni. Akan tetapi diberi tanggung jawab pribadi, ditanyakan tentang rencana-rencana selanjutnya dan dicari kesepakatan atas tingkah laku mereka yang baru. Atas dasar semua ini, Glesser mengharap stafnya untuk melaksanakan penyembuhan melalui terlibat dalam kehidupan klien, memberikan bantuan dengan penuh pujian yang ikhlas. Program ini terlaksana, staf antusias, remaja-remaja putri ini hidup dengan harapan-harapan positif dan ternyata 20% sembuh.
Kembali ke V.A. Hospital, Glesser mebantu supervisonya dan disana ia menerapkan program yang serupa. Hasilnya sangat mengejutkan, kesembuhan yang awalnya hanya 2 pasien tiap tahun  meningkat menjadi 25 pasien pada tahun pertama, dan 75 pasien pada tahun ketiga, dan rata-rata 200 pasien pada tahun-tahun berikutnya.
Pada tahun 1961, Glasser mempublikasikan konsep Reality Therapy dalam bukunya  Mental Health or Mental Illness. Konsep ini diperluas, diperbaiki dan disusun pada penerbitan tahun 1965 yaitu Reality Therapy: a New Approach to Psychiatry. Tidak lama setelah penerbitan yang kedua, Glesser membuka Institute of Reality Therapy yang dipakai untuk melatih profesi-profesi layanan kemanusiaan. Sekolah-sekolah juga membutuhkan konsultasi Glesser, dan ia dapat menyesuaikan dengan prosedur-prosedurnya di seting sekolah. Kemudian ia mempublikasikan ide ini dalam School Without Failure (1969) dan mendirikan Educational Training Center yang didalamnya guru-guru mendapatkan latihan konseling realita.
Dua buku yang terbit berikutnya, yakni The Identity Society (1972) dan Positive Addiction (1976). Dalam membahas tingkah laku manusia pendekatan ini lebih dari pendekatan kontemporer lainnya. Pendekatan ini dapat dipergunakan untuk mencegah masalah emosional dan tingkah laku. Walaupun beberapa pandangannya radikal, namun keaslian konsepnya masih nampak marginal. Glesser dapat dikatakan sebagai behavioris dan idenya dapat disejajarkan dengan Albert Ellis. Tekanan pada hubungan konseling berakar pada pandangan Rogers. Namun demikian diakui bahwa Glesser hanya meminjam ide-idenya saja, karena kemudian ide-ide tersebut diramu dalam cara-cara yang lebih segar dan menarik serta memiliki kekuatan sendiri.
Konseling realita dimulai pada tahun 1960 dengan tiga konsep yaitu realitas, tanggung jawab, serta benar dan salah. Glesser percaya bahwa semua orang memiliki dua kebutuhan dasar manusia terkait: hubungan (mencintai dan dicintai) dan respect (merasa berharga untuk diri sendiri dan lainnya). Perilaku yang menunjukkan penghargaan untuk kebutuhan kita sendiri dan orang lain menyebabkan timbulnya harga diri dan hubungan yang bermanfaat. Perilaku juga mencerminkan kesadaran akan realitas, tanggung jawab untuk diri sendiri, dan pemahaman tentang benar dan salah.
Tulisan-tulisan awal ditekankan terhadap isu-isu etis dan menekankan perbedaan individual. Tulisan terakhir kurang menghakimi dan menyatakan secara tidak langsung, agak bersikeras tentang pentingnya benar dan salah dalam proses terapeutik. Glesser mengidentifikasi delapan langkah dalam konseling realita, yaitu: (1) membangun hubungan dengan klien, (2) bertanya, (3) berkolaborasi dengan klien dalam mengevaluasi perilaku mereka, (4) membantu orang membuat rencana untuk berbuat lebih baik, (5) membantu klien "apa yang kamu lakukan?" berkomitmen untuk rencana tersebut, (6) tidak menerima alasan, (7) tidak mengganggu dengan konsekuensi yang wajar, dan (8) tidak menyerah.

B.     Hakikat Manusia
Teori pilihan berpendapat bahwa kita tidak dilahirkan sebagai papan tulis kosong yang menunggu untuk dimotivasi dari luar kekuatan dunia sekitar kita. Sebaliknya, kita dilahirkan dengan lima genetika yang dikodekan  kebutuhan kelangsungan hidup, cinta dan rasa memiliki, kekuatan atau prestasi, kebebasan atau kemerdekaan, dan kesenangan  hal itu yang mengendalikan semua kehidupan kita. Setiap dari kita memiliki  lima kebutuhan, tapi mereka bervariasi dalam kekuatan. Sebagai contoh, kita semua memiliki kebutuhan untuk cinta dan rasa memiliki, tapi sebagian dari kita membutuhkan lebih banyak cinta daripada yang lain. Teori pilihan didasarkan pada premis bahwa karena kita merupakan makhluk sosial memerlukan keduanya menerima dan memberikan cinta. Glasser  percaya bahwa kebutuhan love and belong merupakan kebutuhan primer karena kita  membutuhkan orang  untuk  memenuhi kebutuhan lainnya. Hal ini kebutuhan sulit  karena untuk memuaskan  kita harus memiliki seseorang yang kooperatif untuk membantu kita memenuhi kebutuhan itu
Manusia digerakkan oleh kebutuhan-kebutuhan dasar yang asalnya bersifat genetik. Semua prilaku manusia mempresentasikan upaya untuk mengontrol dunia agar memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu dengan sebaik-baiknya. Orang tidak pernah terbebas dari kebutuhan-kebutuhannya dan, begitu terpenuhi, muncul kebutuhan lain. Kehidupan manusia adalah perjuangan konstan untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan ini dan mengatasi konflik yang selalu muncul di antara mereka. Secara rinci Glasser menjelaskan kebutuhan-kebutuhan dasar  manusia, yaitu:
1.      Kelangsungan hidup (Survival)
Kehidupan fisik ini bertempat di otak tua yang berlokasi di sebuah kelompok kecil struktur yang terklaster di puncak tulang belakang. Gen orang mengistruksikan otak tuanya untuk melaksanakan semua kegiatan yang menjaga kelangsungan hidup yang mendukung kesehatan dan reproduksi.(kebutuhan memperoleh kesehatan, makanan, udara, perlindungan, rasa aman, dan kenyamanan fisik)
2.      Cinta dan rasa memiliki (Love and belonging)
Salah satu kebutuhan psikologis manusia adalah kebutuhannya untuk merasa memiliki dan terlibat atau melibatkan diri dengan orang lain. Beberapa aktivitas yang menunjukkan kebutuhan ini antara lain: persahabatan, acara perkumpulan tertentu, dan keterlibatan dalam organisasi kemahasiswaan.
3.      Kekuan atau prestasi (Power or achievemen )
Kebutuhan akan kekuasaan (power) meliputi kebutuhan untuk berprestasi, merasa berharga, dan mendapatkan pengakuan. Kebutuhan ini biasanya diekspresikan melalui kompetisi dengan orang-orang di sekitar kita, memimpin, mengorganisir, meyelesaikan pekerjaan sebaik mungkin, menjadi tempat bertanya atau meminta pendapat bagi orang lain, melontarkan ide atau gagasan dan sebagainya.  
4.      Kebebasan atau kemerdekaan (Freedom or independence)
Kebebasan (freedom) merupakan kebutuhan untuk merasakan kebebasan atau kemerdekaan dan tidak tergantung pada orang lain, misalnya membuat pilihan (aktif pada organisasi kemahasiswaan), memutuskan akan melanjutkan studi pada jurusan apa, bergerak, dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
5.      Kesenangan (Fun)
Merupakan kebutuhan untuk merasa senang, dan bahagia. Pada anak-anak, terlihat dalam aktivitas bermain. Kebutuhan ini muncul sejak dini, kemudian terus berkembang hingga dewasa. Misalnya, berlibur untuk menghilangkan kepenatan, bersantai, melucu, humor, dan sebagainya.

C.    Perkembangan Prilaku
1)      Struktur kepribadian
Ketika seseorang berhasil memenuhi kebutuhannya, menurut Glasser orang tersebut mencapai identitas sukses. Ini terkait dengan konsep perkembangan kepribadian yang sehat, yang ditandai dengan berfungsinya individu dalam memenuhi kebutuhan psikologisnya secara tepat. Dalam proses pembentukan identitas, individu mengembangkan keterlibatan secara emosional dengan orang lain. Individu perlu merasakan bahwa orang lain memberikan perhatian kepadanya dan berfikir bahwa dirinya memiliki arti. Jika kebutuhan psikologisnya sejak awal tidak terpenuhi, maka seseorang tidak mendapatkan pengalaman belajar bagaimana memenuhi kebutuhan psikologis dirinya atau orang lain. Belajar bagaimana bertingkah laku yang bertanggung jawab merupakan hal yang sangat penting bagi perkembangan anak untuk mencapai “identitas sukses”.
Menurut Glasser ketika seseorang berhasil memenuhi kebutuhannya, orang tersebut telah mencapai identitas sukses. Pencapaian identitas sukses ini terkait pada konsep 3R, yaitu keadaan dimana individu dapat menerima kondisi yang dihadapinya, dicapai dengan menunjukkan total behavior (perilaku total), yakni tindakan (acting), pikiran (thingking), perasaan (feeling), dan fisik (physiology) secara bertanggungjawab (responsibility), sesuatu realita (reality), dan benar (right), adapun konsep 3R yaitu:
a.       Tanggungjawab (Responsibility)
Merupakan kemampuan individu untuk memenuhi kebutuhannya tanpa harus merugikan orang lain.
b.      Kenyataan (Reality)
Merupakan kenyataan yang akan menjadi tantangan bagi individu untuk memenuhi kebutuhannya. Setiap individu harus memahami bahwa ada dunia nyata, dimana mereka harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan dalam rangka mengatasi masalahnya. Realita yang dimaksud adalah sesuatu yang tersusun dari kenyataan yang ada dan apa adanya.
c.       Kebenaran (Right)
Merupakan ukuran atau norma-norma yang diterima secara umum, sehingga tingkah laku dapat diperbandingkan. Individu yang melakukan hal ini mampu mengevaluasi diri sendiri bila melakukan sesuatu melalui perbandingan tersebut ia merasa nyaman bila mampu bertingkah laku dalam tata cara yang diterima secara umum.

2)      Pribadi sehat dan bermasalah
a.       Pribadi Sehat
·         Konseling reality menekankan pilihan-pilihan pada setiap situasi individu memiliki kemampuan membuat pilihan dan mempertanggung jawabkan berhasil.
·         Status kesehatan mental individu dapat dilihat dalam tahapan yang dialaminya, yaitu:
1)      Tahapan Kemunduran/ Regresive Stage, dibagi menjadi 3 :
·         “Saya Menyerah” (1 give up).
·              Simptom-simptom (-), pada perlikau menyeluruh
·           Kecanduan negative = individu mengulang-ulang perilaku yang tidak efektif dan destruktif dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.
2)      Tahapan positif (progress stage) terjadi 3 tahap:
·         “Saya akan melakukannya”.
“Saya ingin berkembang”
“Saya berkomitmen untuk berubah”
·         Simpton-simpton positif, pada perilaku menyeluruh
·         Kecanduan positif = ditandai dengan perasaan berharga pada diri sendiri (self worth), konstruktif dan kepuasan terhadap pencapaian diri sendiri.

pribadi bermasalah
Pribadi bermasalah terjadi ketika seseorang gagal dalam memenuhi kebutuhannya. Apabila kebutuhan psikologisnya sejak awal tidak terpenuhi, maka seseorang tidak mendapatkan pengalaman belajar bagaimana memenuhi kebutuhan psikologis dirinya atau orang lain.

D.    Hakekat Konseling
Praktek realitas terapi dapat dikonseptualisasikan sebagai siklus konseling , yang terdiri dari dua komponen utama: ( 1 ) membuat lingkungan konseling dan ( 2 ) menerapkan prosedur khusus yang mengakibatkan perubahan lingkungan. Seni konseling  adalah merancang semua komponen bersama-sama dengan cara memimpin konseli untuk mengevaluasi hidup mereka dan memutuskan untuk bergerak ke arah yang lebih  efektif.
Siklus konseling  dimulai dengan menciptakan hubungan kerja dengan klien. Hasil Proses melalui explorasi  dari keinginan ,kebutuhan, dan persepsi. Perilaku total konseli  mengeksplorasi mereka sendiri dan membuat evaluasi mereka sendiri seberapa efektif mereka dalam  mendapatkan apa yang mereka inginkan. Jika konseli memutuskan untuk mencoba perilaku baru, mereka membuat rencana yang  akan mengakibatkan perubahan ,dan mereka berkomitmen untuk rencana tersebut. Siklus konseling termasuk menindaklanjuti  seberapa baik yang dilakukan konseli dan menawarkan lebih lanjut konsultasi sesuai kebutuhan.

E.     Kondisi perubahan
1.      Tujuan
Secara umum tujuan konseling reality therapy sama dengan tujuan hidup, yaitu individu mencapai kehidupan dengan success identity. Untuk itu dia harus bertanggung jawab, yaitu memiliki kemampuan mencapai kepuasan terhadap kebutuhan personalnya.
Reality therapy adalah pendekatan yang didasarkan pada anggapan tentang adanya satu kebutuhan psikologis pada seluruh kebutuhannya; kebutuhan akan identitas diri, yaitu kebutuhan untuk merasa unik terpisah dan berbeda dengan orang lain. Kebutuhan akan identitas diri merupakan pendorong dinamika perilaku yang berada di tengah-tengah berbagai budaya universal.
Kualitas pribadi sebagai tujuan konseling realitas adalah individu yang memahami dunia riilnya dan harus memenuhi kebutuhannya dalam kerangka kerja. Meskipun memandang dunia realitas antara individu yang satu dengan individu yang lain dapat berbeda tapi realitas itu dapat diperoleh dengan cara membandingkan dengan orang lain. Oleh karena itu, konselor bertugas membantu klien bagaimana menemukan kebutuhannya dengan 3R yaitu right, responsibility dan reality, sebagai jalannya. Untuk mencapai tujuan-tujuan ini, karakteristik konselor realitas adalah sebagai berikut:
·         konselor harus mengutamakan keseluruhan individual yang bertanggung jawab, yang dapat memenuhi kebutuhannya.
·         Konselor harus kuat, yakin, tidak pernah ”bijaksana”, dia harus mampu menahan tekanan dari permintaan klien untuk simpati atau membenarkan perilakunya, tidak pernah menerima alasan-alasan dari perilaku irrasional klien.
·          konselor harus hangat, sensitif terhadap kemampuan untuk memahami perilaku orang lain
·          konselor harus dapat bertukar fikiran dengan klien tentang perjuangannya dapat melihat bahwa seluruh individu dapat melakukan secara bertangung per
·         Konseling realitas pada dasarnya adalah proses rasional, hubungan konseling harus tetap hangat, memahami lingkungan. Konselor perlu meyakinkan klien bahwa kebahagiaannya bukan terletak pada proses konseling tetapi pada perilakunya dan keputusannya, dan klien adalah pihak yang paling bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.[2]
2.      Peranan Konselor
Konseling realitas didasarkan pada antisipasi bahwa klien menganggap sebagai orang yang bertanggung jawab kepada kebaikannya sendiri. Konselor dapat memberikan dorongan, dengan memuji klien ketika melakukan tindakan secara bertanggung jawab dan menunjukan penolakannya jika klien tidak melakukannya.
Pendekatan reality therapy adalah aktif, membimbing, mendidik dan terapi yang berorientasi pada cognitive behavioral. Metode kontrak selalu digunakan dan jika kontrak terpenuhi maka proses konseling dapat diakhiri. Pendekatannya dapat menggunakan ”mendorong” atau ”menantang”. Jadi pertanyaan ”What” dan ”How” yang digunakan, sedangkan ”Why” tidak digunakan. Hal ini sangat penting untuk membuat rencana teru sehingga klien dapat memperbaiki perilakunya.
Terdapat beberapa cara terapi realitas yang digunakan dalam menangani kasus korupsi yang dilakukan oleh pemerintahan. Pertama, keputusan pribadi tiap pemimpin pemerintahan Indonesia untuk menerapkan standar-standar kebaikan (patokan nilai-nilai) yang tinggi demi perawatan dan penumbuhkembangan keberhargaan diri (self-worth) yang bermakna. Standar kebaikan yang tinggi dan keberhargaan diri yang bermakna niscaya menjadi komponen hakiki kepribadian setiap pemimpin pemerintahan Indonesia.
Kedua, keterlibatan mendalam (deep involvement) tiap pemimpin pemerintahan dengan kehidupan nyata seluruh rakyat Indonesia. Keterlibatan ini niscaya demi pemahaman realitas kehidupan seluruh rakyat Indonesia. Tanpa pemahaman utuh realitas kehidupan seluruh rakyat Indonesia, pemimpin pemerintahan tidak pernah bisa mengejawantahkan perbuatan dan perilaku kepemimpinan yang realistik dan bertanggung jawab. Seandainya para pemimpin masa kini hidup di tengah keterlibatan mendalam dengan kehidupan rakyat Indonesia, dapat dibayangkan para pemimpin pemerintahan tidak akan menelorkan kebijakan menaikkan harga BBM saat kehidupan rakyat masih sulit dan anggota DPR tidak akan meminta tambahan honor.
Ketiga, disiplin, yang makna sejatinya adalah keberanian, kerelaan, dan kesudian manusia menerima realitas yang bersifat tidak menyenangkan, asalkan realitas yang tidak menyenangkan itu terjadi karena dirinya mempertahankan standar kebaikan yang tinggi dan keberhargaan diri yang bermakna. Berbekal disiplin dalam makna itu, para pemimpin pemerintahan tidak akan menghalalkan segala cara dalam upaya mewujudkan aneka keinginan atau sejumlah kebutuhan.[3]
3.      Hubungan Klien dan Konselor
Konseling realitas didasarkan pada hubungan pribadi dan keterlibatan antara konselor dengan klien. Oleh karena itu konselor harus menunjukkan kualitas pribadinya, yang meliputi kehangatan, pemahaman atau empati, kongruen, pemahaman, terbuka, penghargaan terhadap klien.
4.      Situasi Hubungan
Konseling realita didasarkan pada hubungan pribadi dan keterlibatan antara konseli dan konselor. Konselor dengan kehangatan, pengertian, penerimaan dan kepercayaan pda kapasitas orang untuk mengembangkan identitas berhasil, harus mengkomunikasikan dirinya kepada konseli bahwa dirinya membantu. Melalui keterlibatan ini, konseli belajar mengenai hidup daripada memusatkan pada mengungkap kegagalan dan tingkah laku yang tidak bertanggungjawab. Kunci konseling realita adanya kesepakatan/komitmen dalam membuat rencana dan melaksanakannya. Perencanaan yang telah dilakukan oleh konseli dinilai positif  jika ditulis dalam kontrak. Dalam konseling realita ditekankan tidak adanya ampunan/ no excuses ketika konseli tidak melaksanakan rencananya.
F.     Mekanisme pengubahan
Ø  STRATEGI KONSELING
Ada dua strategi konseling realitas, yaitu membangun relasi atau lingkungan konseling dan prosedur WDEP (Want, Doing and Direction, Evaluation, Planning) sebagai suatu sistem yang fleksibel pelaksanaannya.
1)      Want (keinginan) : langkah mengeksplorasi keinginan yang sebenarnya dari klien—ingat pada umumnya manusia membicarakan hal-hal yang tidak diinginkan—. Konselor memberikan kesempatan kepada klien untuk mengeksplorasi tentang keinginan yang sebenarnya dari dengan bertanya (mengajukan pertanyaan) bidang-bidang khusus yang relevan dengan problema atau konfliknya : misalnya teman, pasangan, pekerjaan, karir, kehidupan spiritual, hubungan dengan atasan dan bawahan, dan tentang komitmennya untuk memenuhi keinginan itu.
2)      Doing and Direction(melakukan dengan terarah) : langkah dimana klien diharapkan mendeskripsikan perilaku secara menyeluruh berkenaan dengan 4 komponen perilaku—pikiran, tindakan, perasaan dan fisiologi yang terkaait dengan hal yang bersifat umum dan hal bersifat khusus. Konselor memberi pertanyaan tentang apa yang dipikirkan, dirasakan, dilakukan, dan keadaan fisik yang dialami untuk memahami perilaku klien secara menyeluruh dan kesadarannya terhadap perilakunya itu.
3)      Evaluation (Evaluasi) : evaluasi diri klien—merupakan inti terapi realitas. Klien di dorong untuk melakukan evaluasi terhadap perilaku yang telah dilakukan terkait dengan efektifitasnyadalam memenuhi kebutuhan atau keinginan—membantu atau bahkan menyulitkan, ketepatan dan kemampuannya, arah dan keterarahannya, persepsinya, dan komitmennya dalam memenuhi keinginan serta pengaruh terhadap dirinya. Pertanyaan tentang hal-hal yang bersifat evaluasi “diri” disampaikan dengan empatik, kepedulian, dan penuh perhatian positif.
4)      Planning (rencana) : klien membuat rencana tindakan sebagai perilaku total dengan bantuan konselor. Dalam membantu klien membuat rencana tindakan, konselor mendasarkan pada kriteria tentang rencana yang efektif, yaitu : (1) dirumuskan oleh klien sendiri, (2) realistis atau dapat dicapai, (3) ditindak lanjuti dengan segera, (4) berada di bawah kontrol klien, tidak bergantung pada orang lain— tindakan bertanggung jawab.
Ø  Tahap-tahap Konseling
Tahapan konseling realita adalah:
·         Keterlibatan
·         Anda adalah tingkah laku (berpusat pada tingkah laku sekarang)
·         Belajar kembali (pertimbangan nilai, perencanan tingkah laku yang bertanggungjawab, kesepakatan)
·         Evaluasi (tiada ampunan dan membatasi hukuman)
Ø  Langkah-langkah konseling realitas
1.      Pendahuluan – Membangaun relasi / keterlibatan klien:
v  Menyambut kehadiran klien
v  Menciptakan hubungan baik
v  Strukturing (tujuan, ajakan, harapan,jaminan keberhasilan)
v  Mendengarkan keluhan klien
v  Mempertegas tujuan konseling
b.      Inti/Pengembangan-Melaksanakan strategi konseling:
o   Mengeksplorasi keinginan, kebutuhan, dan persepsi klien
o   Mendorong klien menjelaskan apa yg dipikirkan saat ini
o   Mendorong klien menjelaskan pengaruh pikiran terhadap kondisi fisiologisnya
o   Mendorong klien menjelaskan aoa yang telah dilakukan/ tindakan saat ini, bagaimana dan waktu/kapan melakukannya
o   Mendorong klien menjelaskan perasaan terkait dengan yg dilakukan/ tindakannya tsb.
o   Minta klien menilai kerealistikan perilaku tsb.
o   Mendorong klien merencanakan perilaku yang realistik, benar untuk mencapai keinginannya. (terkait kesesuaian dengan tuntutan lingkungan, ketepatan dengan kebutuhan, rincian, keterkeloloan dan konsekuensinya).
o   Mendorong klien untuk komitmen mencapai keinginannya
o   Mendorong klien untuk tidak menolak kegagalan, menyalahkan diri, dan kecewa.
o   Mendorong klien mengkaji hambatan, memikirkan cara baru mencapai keinginan, dan tidak putus asa.
c.       Penutup
ü  Membuat kesimpulan hasil konseling
ü  Mempertegas rencana tindakan yg harus dilakukan dan cara melakukannya
ü  Mengakhiri konseling dengan tetap memelihara suasana hubungan yang baik
ü  APLIKASI (Keadaan Psikologis Klien)
ü  Klien dalam studi kasus  ini klien sering tidak masuk sekolah walaupun hanya satu minggu sekali bahkan tidak jarang pula satu minggu dua kali. Alasan yang dialami klien untuk tidak berangkat sekolah karena malas untuk berangkat sekolah dan klien pada waktu tidak berangkat sekolah dia bermain keluar rumah bersama teman lainnya. Orang tuanya jarang pulang kerumah karena kesibukannya. Dalam proses pembelajaran akan juga mengalami permasalahan terbukti bahwa anak ini menyukai beberapa mata pelajaran saja dan pelajaran yang paling disukai adalah pendidikan olahraga. Dalam hal aktualisasi diri juga mengalami permasalahan ini terbukti ketika dalam pembicaraan dia susah diajak komunikasi. Anak ini dalam proses pembelajaran kurang menguasai apa yang disampaikan oleh gurunya serta jarang memperhatikan gurunya dalam pelajaran. Anak ini juga sering terlambat sekolah karena berbagai alasan, seperti bangun kesiangan, ban motor yang bocor, dll.
ANALISIS
v  Analisis Prilaku yang dialami klien sekarang adalah dampak dari eksternal yaitu kurangnya peran keluarga yang kurang dalam keseharianya klien mencoba untuk mengatasi segala permasalahanya sendiri dalam hal moral dan spiritual. Karena usianya yang sekarang dalam masa pubertas, dimana juga klien mencari jati dirinya terpengaruh oleh teman-temannya yang membuat klien suka membolos sekolah. Prilaku membolos membuat klien mengalami ketinggalan pelajaran, sehingga prestasi klien menurun dan nilai rapornya rendah.
v  Klien sering tidak masuk sekolah karena hanya ingin melakukan sebuah kegiatan yang disenangi oleh klien, dimana saat klien malas untuk berangkat sekolah sehingga klien ketinggalan pelajaran dan dapat merugikan sendiri. Kemalasan klien tidak terlalu begitu parah karena hanya malas berangkat sekolah. Dalam hal kegiatan yang lain tidak begitu malas. Klien membolos karena malas dan lebih senang bermain dengan teman sepergaulannya. Malas karena ada beberapa pelajaran yang tidak disukai dan bahkan guru yang tidak disukai. Kemalasan yang dimiliki oleh klien karena klien kurang memahami kewajibanya sebagai seorang anak yaitu belajar. Klien tidak mengerti hal utama yang harus dilakukan oleh seorang murid.
TEKNIK-TEKNIK TERAPI YANG DIGUNAKAN
                        Terapi realitas bisa ditandai sebagai terapi yang aktif secara verbal. Prosedur-prosedurnya difokuskan pada kekutan-kekuatan dan potensi-potensi klien yang dihubungkan dengan tingkah lakunya sekarang dan usahanya untuk mencapai keberhasilan dalam hidup. Terapis atau konselor bisa menggunakan beberapa teknik sebagai berikut:
a)      Menggunakan role playing dengan klien
b)         Menggunakan humor yang mendorong suasana yang segar dengan rilek. Agar konseli (siswa) diatas bisa merasa nyaman dan betah berada di sekolah.
c)       Tidak menjanjikan kepada klien maaf apapun, karena telah terlebih dahulu diadakan perjanjian untuk melakukan tingkah laku tertentu yang sesuai dengan keberadaan klien.
d)     Menolong klien utnuk merumuskan tingkah apa yang akan diperbuatnya. Mendorong klien untuk berpikir bahwa sekolah dan belajar lebih penting dari pada membolos bermain-main dengan teman yang tidak jelas.
e)      Membuat modal-model peranan terapis sebagai guru yang lebih bersifat mendidik.
f)       Membuat batas-batas yang tegas dari struktur dan situasi terapinya.
g)      Menggunakan terapi kejutan verbal atau ejakan yang pantas untuk menkanfrontasikan klien dengan tingkah lakunya yang tak pantas, misalnya berupa teguran secara langsung atau tiba-tiba terhadap tingkah lakunya atau janji yang tak dapat dipertanggungjawabkan.
h)      Ikut terlibat mencari hidup yang lebih efektif, misalnya, dengan merencanakan model belajar atau sekolah yang langsung dalam kehidupan dilakukan.
Terapi realitas tidak memasukkan sejumlah teknik yang secara umum diterima oleh pendekatan-pendektan terapi lain. Para psikiater yang mempraktekkan terapi realitas tidak menggunakan obat-obatan dan medikasi-medikasi konservatif, sebab medikasi cenderung menyingkirkan tanggung jawab pribadi. Selain itu, para pempraktek terapi realitas tidak menghabiskan waktunya untuk bertindak sebagai “Detektif” mencari alasan-alasan, terapi berusaha membangun kerjasama dengan para klien untuk membantu mereka dalam mencapai tujuan-tujuanya.
Tehnik-tehnik diagnostik tidak menjadi bagian terapi realitas sebab diagnostik dianggap membuang waktu dan lebih buruk lagi, dengan menyematkan label pada klien yang cenderung mengekalkan tingkah laku yang tidak bertanggung jawab dan gagal. Tehnik-tehnik lain yang tidak digunakan adalah penafsiran, pemahaman, wawancara-wawancara nondirektif, sikap diam yang berkepanjangan, asosiasi bebas, analisis transferensi dan resistensi, dan analisis mimpi.
G.    Kelebihan dan kelamahan konseling realitas
Kelemahan:
·         Teori ini mengabaikan tentang intelegensi manusia, perbedaan individu dan factor genetic lain.
·         Dalam konseling kurang menekankan hubungan baik antara konselor dan konseli, hanya sekedarnya.
·         Pemberian reinforcement jika tidak tepat dapat mengakibatkan kecanduan/ketergantungan.
·         Pendekatan ini tidak memberikan pendekatan yang cukup pada dinamika – dinamika tidak sadar pada masa lampau sebagai determinan dari tingkah laku.
Kelebihan:
·         Asumsi mengenai tingkah laku merupakan hasil belajar.
·         Asumsi mengenai kepribadian dipengaruhi oleh lingkungan dan kematangan.
·         Konseling bertujuan untuk mempelajari tingkah laku baru sebagai upaya untuk memperbaiki tingkah laku malasuai.
·              Jangka waktu terapi relatif pendek
·             Berfokud pada tingkah laku sekarang[5]



[2]
[5] Corey. teori dan praktik konseling dan psikoterapi. (Semarang press,1995,SEMARANG)Hal.32